Suasana Rumah Kopi Lela, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon mendadak riuh hangat di pekan penutup akhir bulan (monthly closing)
agustus pada Senin (31/8/2026) sore. Usai menuntaskan agenda kedinasan, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa (HL) tampak duduk satu meja dengan Gubernur Maluku periode 2019–2024, Murad Ismail (MI).
Uniknya, visual kedua tokoh Bumi Raja-Raja ini memperlihatkan kontras yang menggelitik: HL tampil santai dengan kaus putih polos, sementara MI dibalut kaus hitam lengkap dengan kacamata gaya.
Di luar perbincangan santai yang sesekali diselingi tawa, pilihan busana kedua figur ini menyajikan simbolisme politik yang menarik. Jika warna sering kali dipadankan secara oposisional, dinamika kaus putih dan hitam sore itu justru merepresentasikan dualitas yang saling melengkapi seperti krimer dan kopi hitam yang menyatu sempurna di dalam cangkir.
Putih melambangkan keterbukaan, niat bersih, serta awal baru kepemimpinan HL, sedangkan hitam yang dikenakan MI memancarkan kematangan, pengalaman, serta keteguhan fondasi dari periode sebelumnya. Kombinasi ini menegaskan bahwa perbedaan masa jabatan maupun gaya politik bukanlah sekat, melainkan sinergi untuk keberlanjutan Maluku Pung Bae.
Sambil menikmati aroma kopi khas Ambon, kedekatan antar-pemimpin ini memancing perhatian pengunjung yang hadir saat itu. Direktur Rumah Inspirasi dan Literasi Maluku
sekaligus ketua DPD KNPI SBB Fahrul Kaisuku, yang berada di lokasi, membagikan pandangannya terkait momen langka tersebut.
”Lihat Bapa Gubernur baju putih dan Bapa Murad baju hitam duduk tertawa bersama itu bikin adem sekali. Kontras bajunya seperti kopi dan susu, beda warna tapi kalau dicampur bikin nagih. Ini bukti politik Maluku itu santai, demi maluku pung bae, tidak perlu tegang-tegang,” ujar Fahrul sambil tertawa.
Meskipun tidak dibalut agenda keprotokoleran resmi, diplomasi meja kopi ini menyampaikan pesan komunikasi politik yang kuat kepada publik. Secara metodologis, interaksi informal di ruang publik (third place) efektif mencairkan sekat birokrasi dan membangun persepsi positif di masyarakat. Pertemuan ini membuktikan bahwa transisi dan kesinambungan pembangunan Maluku dapat dirawat dengan penuh kedewasaan, kehangatan, serta humor yang menyatukan. (*)

Lupakan Kompetisi Politik: Hendrik Lewerissa dan Murad Ismail Tebar Pesona’Harmoni Hitam-Putih’ di Kedai Kopi

