Advertisement

Apakah Harus Wisuda? ‎-ilalang ‎

Aku melihat toga lebih mahal ‎dari mimpi yang dipakai untuk mencapainya.‎ Di aula, tepuk tangan bergema seperti hujan buatan, ‎sementara di luar gedung, ibu masih menghitung harga beras ‎dengan jemari yang mulai kehilangan garis nasib. ‎‎

Mereka berkata,‎”Belajarlah setinggi langit.”‎Tetapi langit rupanya memiliki birokrasi.‎ Di setiap awan ada formulir, ‎di setiap pintu ada biaya, di setiap ijazah ‎terdapat antrean panjang menuju pengangguran.‎‎

Negeri ini pandai mencetak seremoni.‎ Foto-foto kelulusan memenuhi linimasa, ‎tetapi dompet tetap belajar berpuasa.‎ Anak-anak muda memegang map cokelat ‎seperti memeluk peti mati‎ di dalamnya harapan itu dikuburkan ‎atas nama persyaratan administrasi.‎‎

Kebijakan datang seperti pidato:‎rapi, panjang—penuh janji.‎ Tetapi pasar kerja tak pernah membaca naskahnya.‎ Harga kebutuhan naik tanpa meminta izin, upah berjalan tertatih,‎ sedang mimpi diminta berlari agar disebut generasi emas.‎‎

Aku bertanya,‎ apakah harus wisuda‎ agar dunia percaya ‎bahwa aku pernah berjuang?‎ Bukankah luka di telapak tangan ayah ‎lebih jujur dari selembar kertas ‎yang dipigura dengan utang?‎‎

Barangkali yang gagal‎bukan anak-anak yang lulus.‎ Melainkan zaman‎yang mengajarkan pendidikan sebagai tiket,‎tetapi lupa membangun kereta yang membawa ‎mereka ke masa depan.‎‎

Bila suatu hari ‎toga hanya menjadi pakaian‎ menyembunyikan kecemasan,‎ aku ingin melepasnya perlahan,‎ lalu berdiri sebagai manusia bukan angka statistik,‎ bukan bahan kampanye,‎bukan judul pidato tahunan.‎‎ Sebab pertanyaan paling gelap ‎bukanlah, “Apakah harus wisuda? “‎melainkan, Mengapa hidup yang layak ‎masih terasa seperti sebuah beasiswa‎ yang hanya dimenangkan oleh segelintir orang?‎ Ambon, 5 Januari 2026‎‎‎

Advertisement

Artikel Terkait