Oleh : Diginity (Digital Infinity)
Episode 1 : Gemuruh di Atas Bukit Siri-Harimau
Malam telah lama jatuh di Teluk Ambruk, tetapi bagi Nus (32 tahun), hari seakan baru saja dimulai di neraka yang menyala. Di atas lereng terjal perbukitan Siri-Harimau, langit yang biasanya gelap gulita malam itu merona merah membara. Abu panas, jelaga, dan asap pekat menari-nari ditiup angin kencang yang kering, membuat mata perih dan dada terasa seperti dihimpit beton.
Nus, seorang komandan regu Damkar Kota Ambong, mencengkeram erat nozzle selang pemadam bertekanan tinggi. Helm merahnya yang bertuliskan “DAMKAR KOTA AMBONG” sudah dilapisi jelaga hitam, dan jaket firefighter tebalnya basah oleh keringat bercampur air sisa semprotan yang menguap. Di sekelilingnya, gemuruh api yang melahap semak kering dan pepohonan terdengar seperti suara raungan monster yang lapar.
“Tahan posisi! Jangan biarkan api menyeberang ke arah pemukiman Batu Muarah di bawah!” teriak Nus parau, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin dan gemertak dahan yang terbakar. Di belakangnya, rekan-rekan satu timnya berjuang menarik selang yang berat menanjak medan berbatu dan curam.
Bagi Nus dan timnya, ini bukan sekadar tugas memadamkan api biasa. Kebakaran hutan di perbukitan Ambong kali ini sangat berbahaya karena lokasinya yang sulit dijangkau mobil pemadam. Mereka harus mengandalkan fisik, menyambung puluhan meter selang, dan membawa pompa portabel menembus hutan yang gelap demi melindungi ribuan nyawa warga yang tinggal dari arah Pasar Mardikem sampai kaki-kaki bukit Siri-Harimau.
Asap tebal sempat mengepung mereka, membuat jarak pandang drop hingga hanya beberapa meter. Nus terbatuk hebat di balik masker pelindungnya, namun tangannya tak sekalipun melepas kendali selang. Ia tahu, jika garis pertahanan mereka di lereng ini jebol, api akan langsung meluncur deras ke rumah-rumah warga di bawah, termasuk rumah di mana istri dan anaknya sedang cemas menunggu.
“Air terus! Tambah tekanan!” komando Nus lewat radio yang terus berisik oleh koordinasi tim di area Pelabuhan Selamat-Riang.
Semburan air bertekanan tinggi menghantam barisan api yang memuncak, menghasilkan kepulan uap panas yang membubung ke angkasa. Di tengah kelelahan yang luar biasa, otot-otot yang menegang, dan bahaya pohon tumbang yang mengintai setiap saat, Nus terus bertahan. Sorot matanya di balik jelaga mencerminkan tekad yang tak goyah—untuk Kota Ambong yang mereka cintai, api ini harus padam sebelum fajar menyapa.
Episode 2: Menembus Bara Siri-Harimau
Jam menunjukkan pukul tiga pagi. Udara di bukit Siri-Harimau bukannya makin dingin, melainkan makin membakar. Angin malam dari arah perbukitan bertiup kencang, memutar arah lidah api yang tadinya merayap perlahan menjadi gulungan bara yang melompati tajuk-tajuk pohon pala dan cengkeh kering.
“Komandan! Tangki air di pos bawah habis! Truk suplai dari Pelabuhan Selamat-Riang tertahan di Pasar Mardikem, kabut asap terlalu pekat, jarak pandang nol!” suara radio seluler di pundak Nus berdengung kencang, diselingi kresek sinyal yang buruk.
Nus menyapu keringat di dahinya dengan lengan jaket yang sudah legam. Di depannya, barisan api tinggal berjarak lima puluh meter dari jalur pemutus (firebreak) buatan yang sempat mereka gali tadi sore. Tanpa tekanan air yang cukup, jalur tanah selebar dua meter itu tak akan sanggup menahan kobaran api yang meloncat lewat udara.
“Jopi! Beta deng ose bawa pompa portabel turun ke jurang di sebelah kiri!” teriak Nus pada salah satu anggotanya. “Di bawah situ ada alur sungai kecil. Kita sedot air dari sana!”
“Tapi Komandan, jurang situ rapuh, pohon-pohon bambu di pinggirnya sudah mulai kemakan bara!” sahut Jopi, matanya merah menatap lereng yang curam dan gelap, terkepung asap abu-abu pekat.
“Lalu mau biarkan ini api turun ke Batu Muarah?” potong Nus tegas, sambil mengencangkan tali pengaman di pinggangnya. “Kalo Batu Muarah kena, satu jam lagi api sampai di pemukiman! Berangkat!”
Tanpa menunggu balasan, Nus bersama Jopi memanggul pompa pemadam portabel berbobot puluhan kilogram. Mereka merayap turun menembus lereng curam dalam kegelapan yang hanya diterangi sorot senter helm dan pendar merah dari pepohonan yang membara di atas kepala. Abu panas terus berjatuhan bagai hujan salju hitam, menempel di kulit dan membakar kain baju yang tak terlapisi pelindung.
Di dasar jurang, alur sungai memang masih mengalir, walau debit airnya menyusut parah akibat kemarau panjang. Nus berlutut di tanah lumpur panas, menyeburkan selang hisap ke ceruk air yang tersisa, lalu menarik tali mesin pompa.
Crank! Crank! Brmmm!
Mesin Meraung. Air dingin sungai menyembur masuk ke dalam selang, memompa kembali harapan ke atas lereng.
Nus mengarahkan semprotan ke batang-batang pohon raksasa yang mulai roboh menutupi jalur. Uap panas membumbung tinggi, menyengat wajahnya hingga perih. Namun dari balik kepulan uap dan remang asap malam itu, Nus melihat titik-titik lampu dari ratusan rumah warga di bawah sana—Batu Muarah dan Pasar Mardikem—yang masih tertidur lelap tanpa menyadari seberapa dekat neraka merayap ke atap rumah mereka.
“Satu jam lagi fajar, Jopi…” gumam Nus parau, matanya tak berkedip menatap garis api yang mulai tertahan oleh siraman airnya. “Kita tahan sampai matahari terbit!”
Episode 3: Fajar Berdarah di Siri-Harimau
Langit timur mulai menyibak gelap, namun warna merah yang melingkupi perbukitan Siri-Harimau bukannya berasal dari fajar, melainkan gumpalan api yang makin memberingas. Deru mesin pompa portabel di dasar jurang mendadak melengking tinggi, lalu blek-blek-blek… mati total.
“Komandan! Mesin kemasukan pasir, penyaringnya tersumbat lumpur!” teriak Jopi panik dari balik kepulan uap di dasar jurang.
Nus mengumpat dalam hati. Di atas mereka, tanpa guyuran air, lidah api kembali meliuk-liuk cepat menyeberangi parit pemutus. Batang pohon cengkeh tua berukuran raksasa yang meranggas terbakar tiba-tiba berderak nyaring.
KRAKKK!
“Jopi, awas!” jerit Nus seraya melompat dan menerjang tubuh adiknya itu.
BOOM!
Dahan besar yang membara menghantam tanah tepat di tempat Jopi berdiri sedetik lalu. Percikan api dan bara meletup ke mana-mana, membakar sebagian celana pelindung Nus. Tanpa memedulikan rasa panas yang menyengat kulit kakinya, Nus bangkit, memukul-mukul api di celananya hingga padam dengan tangan kosong.
“Ose bisa berdiri?!” bentak Nus sambil menarik krah baju Jopi. Jopi mengangguk cepat meski wajahnya pucat pasi tertutup jelaga.
“Kita naik! Seng ada waktu perbaiki mesin di sini!”
Dengan sisa tenaga yang makin habis, keduanya memanjat lereng curam, kembali ke garis pertahanan atas. Di sana, pemandangan makin mengerikan. Kabut asap begitu pekat hingga sinar matahari pagi tak mampu menembus, membuat suasana Kota Ambong seperti diselimuti gerhana abadi. Dari kejauhan, sirine dari arah Pelabuhan Selamat-Riang dan Pasar Mardikem terdengar kian heboh—warga bawah mulai panik karena jelaga hitam tebal mulai melayang jatuh seperti hujan abu di halaman rumah mereka.
“Komandan Nus! Bantuan dari tim darat tiba!” raung suara dari pengeras suara portabel.
Tiga personel damkar tambahan bersama belasan warga lokal dari Batu Muarah merangsek naik membawakan gancu, sekop, dan tabung pemadam portabel. Warga desa yang membawa jeriken-jeriken air di punggung langsung bahu-membahu menyiram sisa-sisa bara.
“Bikin jalur galian baru! Tebang semua semak kering di sebelah kanan!” perintah Nus, suaranya sudah serak parah, hampir tak bersuara.
Nus mengambil alih gancu besi. Bersama warga dan anggotanya, ia mengayunkan besi itu ke tanah keras, memutus akar-akar pohon yang menyalurkan api di bawah tanah. Tangannya yang tak berlapis sarung tangan kini melepuh dan berdarah, tetapi tatapan matanya tetap mengunci pergerakan api.
Dua jam pertempuran jarak dekat itu berlangsung tanpa henti. Setiap kali api mencoba melompat, sabetan gancu dan gumpalan tanah basah menghantamnya balik.
Hingga akhirnya, sekitar pukul delapan pagi, angin laut dari Teluk Ambruk bertiup kencang membalikkan arah asap. Jalur pemutus yang digali Nus dan timnya berhasil menahan laju utama sang jago merah. Kobaran besar yang mengancam pemukiman Batu Muarah lambat laun mengecil, menyisakan kepulan asap putih dari kayu-kayu mati yang hangus.
Nus terduduk di atas tanah hitam berabu, bersandar pada tunggul pohon yang telah padam. Ia melepas helm merahnya, membiarkan angin laut membelai wajahnya yang penuh jelaga dan peluh.
Dari puncak Siri-Harimau, ia menatap ke bawah. Kota Ambong masih terkepung asap tipis, tetapi rumah-rumah warga di Batu Muarah berdiri utuh. Sambil terengah-engah, Nus tersenyum tipis menatap bayangan laut Teluk Ambruk yang perlahan memantulkan sinar matahari pagi. Mereka berhasil memenangkan pertempuran malam ini.
Episode 4: Sisa Bara dan Janji di Teluk Ambruk
Sinar matahari pagi akhirnya berhasil menembus sisa-sisa kepulan asap putih yang melayang di atas bukit Siri-Harimau. Suasana yang tadinya mencekam kini berubah menjadi hening yang melelahkan. Di sepanjang lereng, tanah menghitam dengan tunggul-tunggul kayu yang masih mengeluarkan uap tipis.
Nus masih terduduk bersandar di tunggul pohon, meneguk air mineral dari botol plastik yang disodorkan oleh seorang warga Batu Muarah. Setiap kali menelan, tenggorokannya terasa perih bagai tersiram pasir panas. Di sampingnya, Jopi sedang diolesi salep pembersih luka oleh petugas medis yang baru tiba di lokasi pertahanan atas.
“Komandan, posko utama di bawah laporkan situasi,” kata Jopi sambil menunjuk radio seluler yang kembali berdengung jernih. “Titik api utama di Siri-Harimau resmi padam. Tim pendinginan dari pos bawah sudah mulai naik bawa pompa semprot gendong buat menyisir sisa-sisa bara di dalam tanah.”
Nus mengangguk pelan, menyapu jelaga yang menempel erat di dahinya. “Bagus. Pastikan sing ada asap merah yang naik lagi. Kalau angin sore tiup kencang dari laut, sisa bara kecil bisa bikin petaka ulang.”
Dari arah jalur setapak, langkah-langkah kaki terdengar mendekat. Beberapa warga lokal berjalan menanjak sambil membawa bakul berisi nasi bungkus dan teh hangat yang dibungkus plastik. Salah satu warga tua dengan garis wajah tegas menghampiri Nus dan menggenggam tangannya yang lepep dan penuh goresan.
“Terima kasih banyak, Dansa Nus,” ucap warga tua itu dengan suara bergetar. “Kalo bukan karena ketahanan komandan deng anak-anak damkar semalam di jurang, katong punya rumah-rumah di bawah sana sudah rata deng tanah.”
Nus tersenyum tipis, membalas genggaman tangan tua itu dengan hangat. “Ini sudah jadi katong punya tugas, Paitua. Yang penting warga semua selamat.”
Setelah memastikan area Sirimau aman dan menyerahkan proses pendinginan (cooling down) kepada tim penyisir, Nus bersama anggotanya bergerak turun gunung. Langkah kaki mereka berat, namun beban besar di pundak terasa jauh lebih ringan.
Setibanya di posko bawah dekat area Pasar Mardikem, suasana kota perlahan mulai berdenyut kembali. Asap pekat yang tadinya mengepung jalanan kini terangkat oleh angin Teluk Ambruk, menyisakan langit biru muda yang samar-samar kembali terlihat di ufuk timur. Sirene mobil damkar yang saling bersahutan kini berganti dengan suara riuk pasar dan klakson kendaraan yang mulai berani melintas.
Nus melepas helm merahnya, menatap ke arah laut Teluk Ambruk yang memantulkan kilau cahaya pagi. Di dalam hatinya, ada rasa syukur yang membuncah. Meski pertempuran melawan api dan kabut asap ini menguras seluruh tenaganya, Kota Ambong kembali bernapas.
Episode 5 (Tamat): Senja Bersih di Teluk Ambruk
Tiga hari berlalu sejak malam mencekik di perbukitan Siri-Harimau. Hujan deras yang dinanti-nantikan akhirnya turun mengguyur Kota Ambong selama dua hari berturut-turut, membilas sisa-sisa abu, jelaga, dan bau sangit yang sempat mengendap di setiap sudut kota.
Sore itu, suasana di markas Damkar Kota Ambong tampak lebih tenang. Truk-truk merah yang kemarin berbalut lumpur hitam kini sudah dicuci bersih dan berjejer rapi di garasi. Di sudut halaman, Nus duduk di atas kursi kayu sambil menikmati segelas kopi hangat. Luka lecet dan lepuhan di telapak tangannya mulai mengering, dibalut perban tipis.
Jopi berjalan mendekat sambil membawa lembaran laporan akhir operasi. Ia menduduki bangku di sebelah Nus, lalu menyodorkan kertas tersebut.
“Semua titik api di lereng Siri-Harimau sampai kawasan Nasi-Sepat resmi dinyatakan padam total, Komandan,” kata Jopi dengan senyum lega. “Posko darurat di Pasar Mardikem juga sudah dibubarkan. Warga sudah balik beraktivitas normal.”
Nus mengambil lembar laporan itu, membacanya sekilas, lalu membubuhkan tanda tangan di bagian bawah. “Bagus. Kerja keras semua tim dan bantuan warga kemarin memang luar biasa.”
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dan riuh tawa kecil dari arah pintu gerbang markas. Beberapa warga dari pemukiman Batu Muarah—termasuk paitua yang malam itu memeluk Nus—datang berkunjung. Mereka tidak datang dengan tangan kosong, melainkan membawa beberapa loyang sagu gula merah dan ikan bakar segar sebagai bentuk rasa terima kasih.
“Dansa Nus! Katong datang bawa sedikit makanan buat anak-anak damkar yang sudah jaga katong punya rumah!” seru paitua itu ramah.
Suasana markas seketika hangat oleh obrolan dan tawa. Pertempuran sengit menembus kabut asap dan kobaran api kini berubah menjadi kisah kebersamaan yang mempererat hubungan antara para petugas pemadam dan warga kota.
Menjelang matahari terbenam, Nus berjalan pelan menuju tepi dermaga kecil di dekat Pelabuhan Selamat-Riang. Angin sore bertiup sejuk, membawa aroma asin laut yang segar—bukan lagi bau asap yang membakar paru-paru. Di hadapannya, permukaan air Teluk Ambruk memantulkan warna jingga keemasan yang tenang. Langit di atas perbukitan Siri-Harimau kini kembali hijau dan damai.
Nus menghela napas panjang, menikmati kebebasan bernapas tanpa masker atau kain basah di wajahnya. Ia tahu, tugas seorang pemadam tidak pernah benar-benar usai dan bahaya bisa datang kapan saja. Namun sore ini, melihat Kota Ambong kembali bernapas leganya sendiri, Nus tersenyum puas.
Cerita ini resmi TAMAT. Terima kasih sudah mengikuti perjuangan Komandan Nus dan regu Damkar Kota Ambong sampai akhir!











