Mubes IV Latupati Maluku, Lewerissa Minta Jaga kerukunan, Kawal Pembangunan Dan Bencana

Suasana pembukaan Mubes IV Majelis Latupati Maluku yang dihadiri oleh Gubernur Maluku beserta jajaran Forkopimda di Ambon. Forum ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat peran raja adat dalam merawat kerukunan dan mengawal pembangunan daerah
🎧 Dengarkan KaryaMenyiapkan suara bahasa Indonesia…
0:00Siap diputar

Kualitas suara mengikuti pilihan suara yang tersedia di perangkat atau browser Anda.

POSTINGAN.ID-AMBON, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa meminta para raja dan kepala pemerintahan negeri adat berperan aktif menjaga kerukunan, mencegah konflik antarnegeri, serta melindungi hubungan persaudaraan masyarakat Maluku.

Pesan tersebut disampaikan saat membuka Musyawarah Besar (Mubes) IV Latupati Maluku di Baileo Oikumene, Ambon, Jumat (16/10/2026).

Lewerissa mengatakan, Mubes menjadi momentum mengevaluasi kepengurusan sekaligus memperkuat tanggung jawab Latupati terhadap negeri adat dan masyarakat. Ia mengingatkan agar perbedaan pendapat dalam musyawarah tidak berkembang menjadi perpecahan.

“Perbedaan pilihan adalah hal yang wajar dalam musyawarah, tetapi jangan sampai meninggalkan perpecahan,” tegasnya.

Sebagai Upulatu Maluku, ia juga mendorong para raja lebih dekat dengan masyarakat, mendengarkan aspirasi warga, memahami persoalan yang dihadapi, serta memberi ruang bagi generasi muda untuk terlibat dalam pembangunan negeri.

Menurut Lewerissa, kehormatan seorang raja tidak hanya ditentukan oleh gelar adat, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinannya.

Lewerissa Soroti Persoalan Batas Petuanan

Persoalan batas wilayah dan petuanan antarnegeri menjadi salah satu perhatian dalam Mubes IV Latupati Maluku. Lewerissa meminta Latupati berperan memfasilitasi penyelesaian sengketa agar tidak berlarut-larut dan memicu konflik sosial.

Ia menekankan pentingnya kebijaksanaan, keterbukaan, dialog konstruktif, bukti yang dapat dipertanggungjawabkan, hukum adat yang relevan, serta kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.

“Jangan biarkan persoalan batas petuanan merusak hubungan antarnegeri,” ujarnya.

Menurutnya, penyelesaian persoalan petuanan bukan sekadar menentukan batas wilayah, melainkan juga menjaga hubungan sosial dan persaudaraan yang menjadi kekuatan masyarakat Maluku.

Raja Didorong Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana

Selain persoalan adat, Lewerissa mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana di Maluku. Sebagai wilayah kepulauan, Maluku menghadapi berbagai ancaman, mulai dari gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem hingga kebakaran hutan dan lahan.

Para raja diharapkan mendorong masyarakat menjaga lingkungan, meningkatkan kesiapsiagaan, dan memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah serta instansi terkait.

Latupati Diharapkan Dukung Pembangunan Maluku

Lewerissa juga mengajak Latupati mendukung agenda strategis pembangunan daerah, termasuk perjuangan Rancangan Undang-Undang Daerah Kepulauan, pengembangan Blok Masela, pembangunan Maluku Integrated Logistic Hub, serta optimalisasi Bendungan Way Apu untuk memperkuat ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Ia berharap pembangunan tetap memperhatikan hak masyarakat adat dan kelestarian lingkungan. Dengan demikian, negeri adat tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi turut berperan dalam menentukan arah dan masa depan Maluku.

Mubes IV Latupati Maluku dihadiri Anggota DPR RI Sadiah Uluputy, Wakil Gubernur Maluku Abdullah Vanath, pimpinan DPRD Provinsi Maluku dan Kota Ambon, unsur Forkopimda, Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Sadali Ie, Sekretaris Kota Ambon, Bupati Maluku Tengah, pengurus Latupati Maluku, pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), pimpinan perguruan tinggi, akademisi, serta para Upulatu dan Inalatu peserta Mubes. (Diskominfo Maluku)

👁 4 dilihat💬 0 komentar⏱ 2 menit baca📅 Terbit 16 Oktober 2026