POSTINGAN.ID-PIRU (SBB), Musyawarah Daerah (Musda) II Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) di Hotel Mitra Place, Piru, Senin (5/10/2026), menjadi ajang konsolidasi gagasan sekaligus panggung dinamika politik yang hangat.
Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Maluku, Rimbo Bugis, menegaskan bahwa konsep “Pemuda Negarawan” harus diwujudkan melalui tindakan nyata, integritas, dan keberanian berpikir independen.
”Pemuda negarawan bukan berarti berkolaborasi dengan pemerintah untuk bersengkongkol dengan kekuasaan atau menjadi penjilat. Pemuda negarawan harus hadir memberikan pikiran, kritik, dan solusi kepada pemerintah daerah,” tegas Rimbo di hadapan peserta Musda.
Ia menambahkan, Pemuda Muhammadiyah wajib mempertahankan independensi moral dan intelektual demi memastikan setiap kebijakan pemerintah benar-benar berpihak pada kepentingan masyarakat.
Suasana Musda kian cair saat Bupati SBB, Asri Arman, memberikan sambutan. Ia secara terbuka menceritakan rekam jejak hubungannya dengan Rimbo Bugis yang penuh dinamika politik sejak dirinya masih menjabat sebagai anggota DPRD.
“Saya kenal Rimbo sejak saya masih menjadi anggota DPRD. Tetapi ketika saya menjadi Bupati SBB, Rimbo sudah spion kiri dan menjadi lawan saya,” kata Asri yang disambut hangat peserta forum.
Meski pernah berseberangan pandangan, Asri menekankan bahwa perbedaan politik tidak boleh merusak hubungan personal dan komunikasi.
“Tapi dengan momentum Musda ini, saya bersama Rimbo hari ini. Rimbo ini orang baik,” puji Asri, seraya berharap Musda II melahirkan kader dan pemimpin muda yang berkapasitas serta menjadi panutan masyarakat SBB.
Senada dengan hal tersebut, Ketua PD Pemuda Muhammadiyah SBB, Darman Wance, menyampaikan bahwa organisasi kepemudaan harus mengambil peran aktif sebagai mitra kritis sekaligus mitra kerja pemerintah daerah.
“Pemuda Muhammadiyah adalah mitra kritis dan juga mitra kerja sama pemerintah daerah dalam mengawal program-program yang berpihak kepada masyarakat,” ujar Darman.
Darman menyoroti beberapa persoalan krusial di Kabupaten SBB, seperti lemahnya perputaran ekonomi, penanganan musibah kebakaran, hingga potensi konflik sosial.
Menurutnya, kekurangan pemerintah daerah tidak sekadar untuk dikritik, tetapi harus dibantu penyelesaiannya secara bersama-sama.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah SBB, Dr. Ahmad Amin, mengingatkan agar Musda tidak disempitkan sekadar menjadi ajang perebutan jabatan ketua.
“Momentum Musda ini bukan hanya ajang pemilihan, tetapi bagaimana kita menyatukan pikiran dan menyiapkan langkah-langkah serta program yang konkret untuk kita hadirkan di tengah masyarakat,” tandas Ahmad Amin.
Kegiatan Musda II PDPM SBB ini turut dihadiri oleh jajaran Forkopimda SBB, pimpinan KPU, Bawaslu, tokoh organisasi pemuda seperti GP Ansor dan HMI, serta sejumlah elemen masyarakat daerah setempat.(*)






